Kota Sukabumi selain terkenal dengan wisata alam seperti pelabuhan ratu, juga populer dengan wisata arung jeram nya. Salah satu sungai yang sering digunakan untuk berarung jeram tersebut ialah sungai citarik. Sungai ini menyimpan keindahan yang luar biasa. Kolaborasi antara tebing yang gagah menjulang, pepohonan di pinggir sungai, arus yang bergelombang, dan “mulusnya” bebatuan, menyatu menciptakan keindahan tersebut. Semua keindahan sungai citarik tersebut di maksimalkan dengan baik oleh pengelola arung jeram terkenal di daerah tersebut, Arus Liar.

Arus Liar yang terletak sekitar 30 KM arah selatan Sukabumi dan tak jauh dari pusat kota Pelabuhan Ratu dapat dicapai melalui tol jagorawi ke arah Ciawi-Sukabumi kemudian melewati pasar Cicurug, terminal Parung Kuda, dan belok ke arah jalan raya Cikidang. Setelah menemukan Cikidang, aktivitas selanjutnya dalam mencapai Arus Liar akan sangat mudah, yaitu dengan melaju lurus mengikuti jalan utama sampai menemukan billboard “Arus Liar”.

Dalam perjalanan menuju tempat wisata, kami di suguhi pemandangan yang menyejukkan mata. Pohon-pohon besar di pinggiran jalan, bunga-bunga beserta kebun warga yang bersebelahan satu dan lainnya seolah melupakan buruk dan terjalnya jalanan menuju tempat wisata. Selain banyak tikungan tajam, jalan menuju Arus Liar pun tidak lebar, padahal jalan di lalui oleh dua arah. Tidak terburu-buru dan berkendara dengan hati-hati akan sangat membantu dalam mengurangi risiko mengalami kecelakaan.

Setelah melewati wisata Kaki Gunung, maka hanya 50 meter dari sana kami pun menemukan tempat yang dituju, Arus Liar. Sesampainya disana, kami langsung di sambut oleh para instruktur arung jeram yang sangat ramah. Lahan parkir cukup luas, kendaraan pun terjamin keamanannya. Selanjutnya sambil menghirup udara segar disana, kami dipandu menuju ke tempat reservasi untuk melunasi perihal administrasi, kemudian mengisi form asuransi jiwa untuk mengantisipasi jika sesuatu hal buruk menimpa kita saat ber-arung jeram.

Setelah itu kami segera mengganti pakaian dengan kostum untuk ber-arung jeram. Selanjutnya kami menuju ke tempat perlengkapan rafting seperti dayung, pelindung kepala (helmet), dan pelampung. Arus Liar pun menyediakan dry bag untuk menyimpan peralatan yang akan dibawa saat ber-arung jeram. Kami mengikutsertakan kamera serta handuk kecil yang dibungkus terlebih dahulu dengan kantong plastik. Dry bag akan di ikatkan di perahu sehingga peralatan yang kita simpan terjamin keamanannya.

Jika anda mengambil paket rafting sejauh 4 KM, maka starting point rafting adalah di tempat menggunakan perlengkapan rafting. Namun karena kami mengambil paket rafting 8 KM (two hours rafting), maka starting point lebih jauh lagi. Sebuah truk digunakan untuk membawa kami ke starting point. Di sepanjang perjalanan menuju starting point, kami lebih sering menjaga keseimbangan karena kondisi jalan yang berbatu dan terjal.

Akhirnya sampailah kami di starting point yang ditempuh dalam waktu kurang lebih 15 menit. Perahu atau boat bisa diisi oleh 5-6 orang (tidak termasuk instruktur). Sebelum meluncur kami diberikan pengarahan oleh instruktur, antara lain bagaimana menghindari bebatuan jika kita terjatuh, cara menyelamatkan teman kita yang terjatuh, dan terakhir ialah diberikan beberapa perintah seperti dayung kanan, mundur, stop, pindah kiri/kanan, dan boom yang mengharuskan kita untuk menunduk jika ada pohon melintang atau benda yang membahayakan dihadapan kita.

Dengan di iringi doa, meluncurlah saya beserta rombongan yang terbagi menjadi tiga boat, menandai dimulainya perjalanan mengarungi sungai citarik. Jeram pertama tidak terlalu liar arusnya, namun mengingat ini pertama kali nya kami berarung jeram, tetap membuat kami teriak kegirangan. Semakin ke bawah mengarungi sungai, maka arus akan semakin “galak” dan adrenalin akan lebih dipacu. Setiap jeram memiliki nama dan setiap melewati jeram, instruktur tak lupa menceritakan asal muasal nama tersebut diberikan. Selain di suguhi oleh seru nya jeram, instrukturnya pun sangat seru karena selalu membuat kejutan dengan misalnya menabrakkan boat ke bebatuan sehingga membuat kami terpental dari posisi mendayung, dan kejutan lainnya yang membuat kami tertawa bahagia.

Jika didepan terdapat bebatuan yang besar dan arusnya cukup kuat,  kami diperintahkan untuk mendayung lebih kencang sehingga boat akan terbawa arus dengan lancar. Jika sedikit saja instruktur salah memberikan perintah, maka boat bisa saja tersangkut di atas bebatuan, seperti yang dialami oleh boat yang ditumpangi rekan saya. Jika sudah begitu, maka boat yang saya tumpangi akan berhenti sejenak menunggu boat yang tersangkut tersebut terbebas lagi. Karena dalam satu kloter, jarak antara satu boat dengan yang lainnya tidak akan terlalu jauh atau akan saling beriringan. Hal ini di maksudkan supaya jika terjadi masalah di salah satu boat, maka boat yang berada didekatnya bisa memberikan bantuan, karena di salah satu boat terdapat satu orang petugas medik.

Foto hasil fotografer Arus Liar, mengekspresikan betapa serunya berarung jeram.

Yang lebih seru lagi ketika jarak antar boat satu dan lainnya berdekatan, maka akan terjadi perang air. Meskipun boat tersebut berasal dari kloter yang lain, asalkan ada boat di dekat kita, tidak peduli teman atau bukan, di halalkan untuk saling menyemburkan air, seru sekali. Selain itu ada kebiasaan setelah berhasil “mengalahkan” jeram yang liar, kami melakukan selebrasi tos arung jeram, yaitu dengan berteriak sekencang-kencangnya sambil mengangkat dayung ke atas, niscaya beban pikiran atau kepenatan akan lenyap seketika.

Di jeram tertentu kami menemukan sesuatu yang menarik, seperti biawak sedang menyusuri sisi sungai, anak-anak kecil yang sedang bermain air, masyarakat sekitar yang sedang memancing ikan disungai, seorang bapak yang melintasi sungai sambil memikul hasil tani, sampai lokasi penginapan Arus Liar yang sangat unik, dimana penginapan tersebut terbuat dari tembikar dan tidak ada arus listrik. Untuk mengabadikan momen, maka di titik tertentu kami di bidik oleh fotografer Arus Liar, tidak lupa kami pun memasang pose terbaik J. Di bagian sungai yang tenang, kita bisa rehat sejenak untuk menyelam dan berenang. Kami beristirahat di KM ke-3 selama lima menit dan tak lupa meminum minuman segar yang disediakan Arus Liar.

Perjalanan dilanjutkan, sisa jarak yang kami tempuh ialah 5 KM. Kurang lebih di KM ke-6 anda akan menemukan arus sungai yang unik. Saat mencapai arus yang tenang, cobalah untuk keluar dari boat dan merebahkan diri di sungai. Aliran sungainya bergerak memutar, sehingga meskipun anda merebahkan diri, arus sungai tidak akan membawa kita ke bawah, melainkan bergerak memutar ke atas seperti membentuk lingkaran, sungguh unik.

Jeram demi jeram berhasil dilalui, total jeram yang kami taklukkan berjumlah 15 dengan nama yang sangat unik seperti ada jeram TVRI, yang dinamakan karena ada karyawan TVRI pernah terjatuh di jeram tersebut, kemudian ada jeram ranting, jeram Bali, jeram zig zag karena membuat boat kami bergerak zig-zag, dan lain-lain Lalu tibalah kami di  jeram terakhir, jeram Duren.

Setelah lelah mengarungi sungai, kami beristirahat selama sepuluh menit sambil menikmati kelapa muda yang segar, terasa nikmat sekali. Selanjutnya kami kembali ke camp Arus Liar menggunakan mobil. Setelah membersihkan diri, kami diberikan hidangan makanan khas sunda dengan ditemani oleh foto-foto pada saat rafting yang ditampilkan di layar berukuran besar. Sayangnya untuk membawa pulang softcopy foto-foto tersebut,  kita harus membayarnya. Namun bagaimanapun, berarung jeram di sungai citarik sangatlah berkesan, dengan ketinggian arus 70 cm kala itu, sungai yang berhulu di Taman Nasional Gunung Halimun dan bermuara ke laut selatan Pelabuhan Ratu ini berhasil membuat suasana riang dan memacu adrenalin kami.

Berwisata di Arus Liar sangat cocok baik untuk badan usaha yang akan melakukan outing, maupun untuk rombongan seperti kami. Selain paket yang disediakan sangat beragam, harga yang ditawarkan pun sesuai dengan fasilitas dan pelayanan yang sangat memuaskan. Selanjutnya dalam perjalanan pulang kami pun berencana untuk menaklukkan jeram di sungai lainnya.